Langsung ke konten utama

Jejak Berusia 3,6 Juta Tahun

Jejak Berusia 3,6 Juta Tahun Beri Petunjuk tentang Poligami pada Zaman Purba 

KOMPAS.com - Jejak manusia purba berusia 3,6 juta tahun  ditemukan di Tanzania.
"Satu jejak individu berukuran lebih besar dari jejak lainnya dalam satu grup, menunjukkan bahwa jejak itu milik seorang laki-laki," kata Giorgio Manzi dari Universitas Roma yang memimpin riset.

Laki-laki pemilik jejak yang terbesar itu diduga punya tinggia 165 cm. "Membuatnya menjadi Australophitecus terbesar yang pernah diidentifikasi," imbuhnya.

Jacopo Moggi-Cecchi dari University of Florence yang juga terlibat riset mengatakan, jejak itu bisa memberi petunjuk tentang gaya hidup manusia purba masa lalu.
Jejak Australophitecus afraensis di Tanzania. Jejak itu memberi petunjuk bahwa manusia purba berpoligami (Raffaella Pellizzon)
"Temuan jejak-jejak ini membuka jendela yang berbeda, ada banyak peluang untuk mempelajari kehidupan sehari-hari manusia spesies ini," kata Moggi Cecchi.

Marco Cherin dari University of Perugia, mengatakan, Kesimpulan sementara, jejak itu milik satu laki-laki, dua atau tiga perempuan, dan satu atau dua anak.

"Itu membuat kami percaya bahwa laki-laki itu dan laki-laki lain dalam spesies sama punya beberapa pasangan perempuan," ungkapnya seperti dikutip BBC, Kamis (15/12/2016).

Jika kesimpulan sementara itu terbukti benar nantinya, maka gaya berpasangan manusia purba A afraensis lebih mirip gorila daripada simpanse.

Selain memberi petunjuk, temuan jejak ini juga menguak satu pertanyaan tentang evolusi gaya berjalan dengan dua kaki pada manusia.

Ada yang mengatakan, gaya berjalan A afraensis tak jauh berbeda dengan manusia modern. Robin Crompton dari University of Liverpool yang tak terlibat studi mengatakan, belum cukup bukti untuk membenarkannya.

"Jika manusia sudah berjalan dengan cara yang sama dengan kita selama 3,65 juta tahun, dan juga manusia purba yang berasal dari genus yang berbeda, Australophitecus, maka itu akan sangat menarik," ungkapnya.

Sumber: Kompas.com (15/12/2016); Penulis/Editor : Yunanto Wiji Utomo

Komentar